Peduli
Di umur kesekian, hal kecil maupun hal besar tak lepas dari tanggungjawab pribadi, bahkan seringnya kedua hal tersebut bisa berbalik arah, dan ini ada kaitannya dengan kepedulian. Yah, kita tak perlu terlalu muluk-muluk sebenarnya, peduli dengan diri sendiri saja sudah menjadi hal langka, karena maraknya kepedulian yang berlebih terhadap orang lain, bahkan peduli di urusan privasinya, seolah menjadi benteng seseorang untuk menawarkan bantuan, dalam tanda kutip, bantuan yang tak dibutuhkan dan sama sekali tak diinginkan, lantas untuk apa?
Kejadian itu bisa saja terjadi di tempat yang sangat dekat dengan kita, atau di orang-orang terdekat bahkan. Peduli yang berkedok obok-obok, ah itu biasa, jika subjeknya masih jauh dari kita, namun luar biasanya adalah ketika subjeknya adalah orang paling kita percayai, orang yang kita andalkan, bahkan orang yang paling kita 'sayangi', lantas kita harus bagaimana?
Kedua pertanyaan tadi masih berkecamuk di kepala, tak kunjung kutemukan jawabannya, bingung dan bimbang, dimana esensi peduli? Dimana hakikat 'kedekatan'? , Hal-hal kekeluargaan rasanya tidak berada pada tempatnya, yang dekat menjauh, yang jauh semakin jauh.
Ketika tiada lagi yang bisa kita andalkan, tiada tempat lagi untuk kita di dunia, maka pertanyaan terakhir,
masihkah ada Sang Maha Kuasa di hati kita?


Komentar
Posting Komentar