Bertemu untuk belajar
Diawali dengan niat ataupun bahkan tak ada niatan, ketika bertemu orang baru, kita pasti mendapatkan pengalaman belajar. Karena belajar tak selalu lewat bangku dan buku, ditemani sepiring gorengan dan secangkir teh lalu mengobrol bahasan ringan, dan selingan guyonan receh bisa jadi lebih membawa banyak pelajaran hidup yang berharga.
Tapi, terkadang ketika bertemu orang-orang yang baru, hati dan akal terasa berat menerima, seperti tidak ada ruang untuk menampung air yang mereka bawakan, keberatan, merasa sudah 'penuh', airnya tak sejernih yang kita punya, tak ingin menambah air lagi, dan merasa cukup dengan air yang dimiliki.
Padahal bisa kan mengambil wadah yang baru atau gelas yang kosong.
ck
Ternyata penyebabnya adalah malas daan meremehkan, malas mengambil wadah, berdalih lelah, jauh, dan sibuk dengan hal lain. Meluangkan waktu semenit saja untuk menerima 'air' dari mereka, seperti dimintai waktu 2 tahun.
Begitulah kira-kira, hingga akhirnya air yang dimiliki tak cukup untuk mendinginkan akalnya yang suatu saat akan mendidih, terbakarnya hati, dan amarah yang menyala.
Wadah- wadah itu pun perlahan hangus, tak bersisa.
Penyesalan pun hadir, kemudian tersadar dan muncullah pernyataan,
Aku harus mengosongkan gelasku, kuterima air apapun yang mereka berikan, karena aku diberi dan bahkan aku tak perlu repot meminta, pantaskah kita menolak pemberian berharga itu?
Aku tak peduli apakah air itu tampak tak elok, wadah yang jauh, tak punya waktu, akan tetap kuterima, dengan kelegaan hati, karena suatu saat,
Aku pasti akan sangat membutuhkannya.

Komentar
Posting Komentar