Teruntuk para Peng'usaha'

الجميع يطالبك بأن تقاوم 

لكن لا أحد يعلم كم تعاني


"Semua orang menuntutmu untuk bertahan

Namun tidak ada seorangpun yang peduli sebesar apa penderitaanmu"

-someone





Begitulah kutipan postingan salah satu akun Twitter yang saya follow, yang tiap postingannya selalu saja mirip-mirip dengan keadaan yang saya alami, mungkin Allah menghadirkan pengingat, lewat kebiasaan saya scroll twit. hehe


Membahas isi postingan diatas tadi, tak elok rasanya jika harus mengulas masalah yang sedang menimpa saya di tulisan kali ini , mungkin saya akan lebih memilih bertahan, menguatkan diri, mengatakan ini dalam hati "Hai aku, bertahanlah, kamu bisa", begitu, sederhana.


Sesederhana kita memahami tuntutan hidup yang bergelimangan di depan mata. haha sederhana katanya. 

oke tuntutan. 

Tuntutan demi tuntutan sepertinya akan terus bertambah, seiring 'tua' nya diri. Ia tak akan berubah pikiran untuk tak menghantui, dan itu akan terus menerus hadir selama hembusan nafas masih mengalir di bumi ini. 


lalu, mengapa kita sebagai manusia masih mempermasalahkan kewajaran itu? wajar kan kita dituntut? 

dituntut untuk selalu melakukan hal baik, melaksanakan tugas dengan maksimal, mengerjakannya dengan teliti dan sempurna, 

wajar kan? 

iya itu idealis, wajar


meskipun di kenyataannya kita tak mungkin menyelesaikan semua hal dengan sempurna seperti yang mereka minta, kadangkala kita merangkak, berlari, bahkan memanjat demi menyelesaikannya. 


lalu apa poinnya? 

Usaha (Effort) dan Apresiasi 

Mana ada orang lain yang mau di'sambat'i? 

mereka ingin tau hasil jadi saja, iya sudah itu saja, sepersekian persen orang yang ingin tahu usaha kita. 

Effort kita, memang cukup kita yang tau, segala macam penderitaan, cukup kita yang tau. Kita hadapi itu, kuatkan saja diri, katanya mau memperbaiki diri, berarti harus ada yang dibenahi dong. 


haha ujung-ujungnya ya memaki diri sendiri


Oke, lanjut ke poin apresiasi

Usaha yang kita rasa cukup maksimal lah kalo dibuat ukuran untuk orang-orang yang mencoba bangkit, juga butuh apresiasi, 

seperti hal sederhana ini :

"Wah terimakasih ya sudah diusahakan" 

atau

"Semoga usaha kita semua mendapat berkah dan ridho" 


se simpel itu, katakan, setidaknya pada diri sendiri. Makin bagus kalau kita yang  mengatakannya pada orang-orang yang sedang berjuang, inilah power of words, dibumbui hati yang tulus, beuhh manjurr kalau untuk mengembalikan semangat yang kian memudar karena lelah. 

Semangat wahai para peng'usaha'

Lelah itu, rasakan, ia nikmat yang hadir agar kita bisa merasakan istirahat. 

cuman, ketika rasa lelah itu melanda, 'haram' kah kita mengeluh? 






Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer