Mengharap, bukan berarti menuntut kan?

 


    Jika berbicara soal takdir, maka rasanya seolah membuat negosiasi dengan tuhan tentang hal-ihwal ketuhanan dan segala kehendaknya. Namun, tak perlu panjang angan untuk hal ini, cukup diyakini, dinikmati, dan tetap berharap tanpa menuntut panjang lebar perihal takdir yang terbaik untuk diri.

Mengharap bukan berarti menuntut kan? 

    Ya meskipun seringkali kita lebih dominan ‘menuntut’ daripada sekedar ‘mengharap’. Pandangan manusiawi kita yang terbatas, tak mampu melihat sisi terindah yang hanya diketahui tuhan. Akhirnya jatuhlah kita pada angan dan ‘ekspektasi’ manusiawi yang kita buat sendiri. Kita tak tahu-menahu tentang arti ‘terbaik’ menurut tuhan.

    Kita boleh untuk meminta, bahkan tuhan sangat menyukai hambanya yang gemar berdo’a. Do’a kita boleh spesifik, boleh sangat detail, tak ada larangan semacam itu dalam berdo’a. 

    Namun, sebagai hamba yang dikaruniai hati dan akal, bukankah kita sudah mengenal tatakrama? budi pekerti? adab? atau akhlak?

Apakah selama ini yang kita sebut ‘budi pekerti’ itu hanya pada sesama makhluk?

Jika kepada makhluk saja, kita diminta untuk beradab, lalu bagaimana dengan pencipta makhluk, penguasa jagat raya, Sang Ilahi?

Maka, berdoalah dengan ‘adab’ hamba kepada tuhannya.


Mlg, 5 Ramadhan 1445 H

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer